Selamat Jalan Mata Pelajaran TIK

Tulisan ini menjadi Index Headline di kompasiana.com pada tanggal 3 April 2013.

Gambar

——————————————-

Hanya dalam kurun waktu lima tahun sejak dimasukkannya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai mata pelajaran pokok dalam Kurikulum Pendidikan, dunia TIK di Indonesia berkembang begitu dahsyatnya. Kurikulum 2004 yang dilanjutkan dengan KTSP 2006 memberikan ruang dan peluang untuk memfasilitasi masyarakat akademik dari tingkat dasar, menengah hingga perguruan tinggi untuk mengenal lebih dekat dengan teknologi komputer beserta multimedianya. Rangsangan tersebut, walau pada awalnya seperti hal yang mustahil diwujudkan oleh lembaga pendidikan karena komputer merupakan sarana dan prasarana yang dianggap mewah dan mahal, berdampak di tahun-tahun belakangan ini.

Dampak yang dapat dipetik buahnya, antara lain oleh Arrival Dwi Sentosa (14), siswa kelas 2 SMP Negeri 48 Bandung, berhasil mengembangkan perangkat lunak anti virus gratis yang dinamai ARTAV. Program yang dibuatnya di rumah, dibantu oleh Taufik Aditya Utama, kakaknya yang berstatus pelajar di SMA 25 Bandung sebagai tenaga desain grafis. Produk tersebut dapat mendeteksi dan mematikan lebih dari seribu jenis virus dan diunduh tidak kurang dari 150 ribu orang dari seluruh penjuru dunia.

Nama lain anak Indonesia yang pernah dicatat adalah Fahma Waluya Rosmansyah (12) beserta adiknya, Hania Pracika Rosmansyah (6), memenangi lomba pembuatan ”software” Asia Pacific Information and Communication Technology Award (APICTA)International 2010 di Kuala Lumpur, yang diikuti 16 negara, untuk game edukasi. Keduanya juga dikenal sebagai pengembang aplikasi Nokia OVI termuda dan sudah menghasilkan banyak aplikasi untuk ponsel pintar berbasis Symbian. Karya lainnya dari Fahma untuk ponsel antara lain, DUIT (Do’a Usaha Ikhlas Tawakal), Bahana (Belajar Huruf dan Warna), Enrich (English for Children), Mantap (Matematika untuk Anak Pintar) dan Do’a Anak Muslim (Prayer for Children).

Muhammad Yahya Harlan (12), Siswa kelas 1 SMP Alam Bandung tidak mau kalah. Dengan SalingSapa.com hasil pengembangan dan pengelolaannya, Yahya mencoba mengakrabkan antar komunitas manusia di atas permukaan bumi ini, mirip jejaring sosial Facebook.

Puncak prestasi mencengangkan Generasi Muda Indonesia dalam ber TIK-ria adalah ketika diretasnya situs resmi Presiden SBY oleh seorang Wildan (22 tahun). Pemuda yang hari-harinya dihabiskan sebagai operator warung internet tersebut, berusaha dengan sekuat tenaga mengembangkan kemampuan TIK yang didapatnya sejumput di salah satu SMK di Jember dengan jurus otodidak.

Dari operator hingga menjadi teknisi, sebuah indikator keberhasilan. Sayang, sifat ‘iseng’ Wildan muncul manakala ilmu itu bersemayam dalam pengetahuannya. Daya juang dan kreativitasnya harus dibayar mahal, karena yang di-isenginya adalah situs resmi orang nomor wahid di Indonesia. Wildan akhirnya dikeroyok dengan Pasal 22 huruf (b) UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, dan Pasal 30 ayat 1, 2, 3 junto Pasal 32 ayat 1 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Prestasi lainnya bisa saja diperpanjang, dengan hasil yang bisa ‘dinikmati’,  berupa berkembangnya jenis virus lokal. Demikian juga dengan perangkat lunak bajakan yang mudah didapat di beberapa tempat umum. Dari kepingan CD/DVD asli yang dilengkapi crack agar dapat dibeli dengan harga miring, memungkinkan peminatnya  belajar menggunakan, untuk kemudian unggul dalam mempergunakan aplikasi tersebut. Sebuah kenyataan yang memerlukan Bill Gates menelaah dan mendiskusikannya secara khusus  dengan Presiden RI.

Potret di atas adalah plus minus perkembangan dunia TIK di negara kita. Sekarang, TIK tidak lagi dijadikan sebagai mata pelajaran pokok dalam Kurikulum 2013. Guru TIK dengan ‘tunjangan sertifikasi’ di tangan, bertanya-tanya tentang kelangsungan nasib mereka. Lebih jauh, dengan berkurangnya lapangan pekerjaan sebagai guru bidang studi TIK di sekolah, akan berkurang juga minat generasi muda untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yang berhubungan dengan TIK.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menyadari bahwa perkembangan teknologi saat ini sangat pesat. Untuk itu, mulai jenjang SMP, TIK akan dijadikan sarana pembelajaran pada semua mata pelajaran.

“Jadi TIK menjadi media semua mata pelajaran untuk jenjang SMP ini sehingga anak-anak juga bisa mengenal teknologi dengan baik,” kata Nuh saat jumpa pers di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Selasa (13/11/2012).

Dalam proses pembelajaran, TIK dijadikan sebagai media pembelajaran pada semua mata pelajaran yang dirasa cocok oleh guru yang bersangkutan berdasarkan analisis rancangan pembelajaran. Di satu sisi, TIK dipergunakan guru sebagai sarana pembelajaran. Di sisi lainnya peserta didik tidak perlu diajarkan bagaimana mempergunakan TIK sebagai bekal kehidupannya di tengah belantara dunia yang ramai-ramai menggalakkan pembelajaran TIK di negaranya masing-masing.

Atau memang, anak-anak kita tidak perlu diajarkan bagaimana menggunakan perangkat TIK, karena akan bisa dengan sendirinya tanpa bimbingan guru di sekolah?

Biarkan mereka bisa dengan sendirinya (autodidac)! Toh pada kenyataannya, tidak sedikit peserta didik, dalam beberapa hal, lebih cerdas dari gurunya dalam mempergunakan perangkat TIK.

Who’s know?***

Selamat Datang Kurikulum 2013

————————————————————

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s