‘Classic Teachers’ versus ‘Digital Students’ (Sebuah Refleksi Menyambut Kelahiran Kurikulum 2013)

Digital Students’ are young adults who have grown up with digital technologies integrated as an everyday feature of their lives. Digital students use technology differently from previous generations of students, fluidly and often simultaneously using instant messengers, mobile phones, the Web, MP3 players, online games and more ( Andone, at al; 2009).

Anekdot: “Dua perangkat gadget dengan jenis dan harga yang sama dibagikan kepada satu orang guru dan satu orang peserta didik yang duduk di tingkat sekolah dasar (SD) pada waktu bersamaan. Beberapa saat kemudian, peserta didik telah asik berselancar, sementara sang guru masih sibuk mencari cara bagaimana menghidupkannya” (Ariasdi; 2013).

Pendahuluan

Guru, sebagai tenaga profesional memiliki tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, mulai dari pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Untuk menunjang profesinya, sebagaimana yang diamanatkan dalam Permeneg PAN dan RB Nomor 16 tahun 2007, seorang guru juga dituntut memiliki kewajiban, berwenang dan bertanggungjawab untuk meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Kewajiban tersebut perlu diupayakan secara berkesinambungan, karena ‘mutu’ pada prinsipnya merupakan tanggung jawab setiap orang.

Indikator terjadinya peningkatan mutu personal adalah ‘perubahan (change)’ ke arah perbaikan berupa moksa dengan wujud ‘kreatifitas, inovasi, serta merasa gelisah dan gerah dengan kemapanan’. Stimulusnya bisa bersumber dari luar (ekstrinsik) maupun dorongan dari dalam diri sendiri (intrinsik), sehingga menimbulkan ‘motivasi’ di setiap denyut nadi sang guru. Dampaknya, peserta didik selalu merindukan kehadiran gurunya dan menanti (penuh harap) suguhan pelajaran, karena disajikan dengan cara bervariatif (edutainment) pada setiap kompetensi. Pelajaran tidak lagi terkesan ‘menggurui’, apalagi ‘membosankan’. Hal tersebut sesuai dengan pilar ke lima dalam prinsip pengembangan kurikulum; ‘peserta didik diarahkan belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan’.

Pernahkah Anda (sebagai seorang guru) dirindukan ketidakhadirannya oleh peserta didik? Jika demikian, sudah saatnya Anda ‘menyulap’ ruangan belajar yang memiliki luas rata-rata 45 meter bujur sangkar tersebut (yang semula terkesan sebagai ‘camp concentration’) menjadi ‘wahana permainan’ sarat ilmu pengetahuan/logika, etika dan estetika. Ke tiga unsur tersebut harus dipenuhi secara utuh dan sistemik, tanpa terpilah-pilah, karena satu saja tidak terpenuhi, maka manusia akan merasakan kekurangan yang dapat mengganggu kelangsungan hidup dan kehidupannya.

Yang menjadi pertanyaan, mampukan personal guru mencermati peluang dalam mewujudkan inovasi dan kreatifitas tersebut? Mampukah personal guru menyerap ‘infus’ dari luar dan dalam diri sendiri agar berdayaguna sebagai pemicu motivasi dalam menumbuhkembangkan metode pembelajaran sesuai tuntutan kekinian?

Habit dan Dejavu

“Innovative approaches to the curriculum at the present time have shifted some of the stress from subject knowledge to the acquisition of ‘21st century skills’ and ‘personalisation’ which are seen as essential both for individuals’ personal successes in learning and adult life, and for national economic development”.(Futurelab; 2009,14)

Sejarah mencatat, pergantian kurikulum di Republik Indonesia telah terjadi sebanyak sepuluh kali. Perubahan signifikan terlihat pada tahun 2004 dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK yang selanjutnya bermetamorfosis menjadi Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran (KTSP) pada tahun 2006, lahir berdasarkan hasil pencermatan dan pertimbangan gejala globalisasi sosial-budaya yang dipengaruhi pesatnya perkembangan TIK. Sebagai bagian dari ‘metasystem’ pendidikan global, Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) tidak bisa menutup diri pada saat merancang kurikulum. Salah satu rujukan adalah rumusan yang dikembangkan UNESCO dalam memenuhi komitmen global untuk pencapaian sasaran-sasaran Millenium Development Goals (MDGs), Education For All (EFA), dan Education for Sustainable Development (EfSD). Sejak saat itu, TIK dimasukkan sebagai mata pelajaran pokok di seluruh jenjang pendidikan formal.

Mencermati betapa strategis dan efektifnya kontribusi TIK dalam pendidikan, UNESCO-pun merancang kerangka dasar kompetensi TIK bagi tenaga  profesional di bidang pendidikan serta memberikan gambaran  peran TIK dalam reformasi pendidikan, sekaligus membantu negara-negara anggota agar mengembangkan Kerangka Dasar Standar Kompetensi TIK guru, mulai dari perencanaan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran yang tercantum dalam ‘UNESCO ICT Competency Framework for Teachers’.

Bersinerjinya antara teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan multimedia-nya dalam dunia pendidikan berdampak kepada cara guru mengajar dan cara peserta didik belajar. Perkembangan TIK menyebabkan terjadinya perubahan paradigma di sektor manajemen pendidikan, proses pekerjaan dan proses komunikasi pembelajaran/pelatihan antara guru dan peserta didik. Dengan demikian, penguasaan TIK ‘tingkat tinggi’ merupakan hal yang ‘wajar’ dimiliki guru. Guru wajib meningkatkan kompetensinya di bidang TIK, dengan pertimbangan:

“…Teachers are the key to the successful integration of ICT into education. They manage the processes of teaching and learning. Without the active, enthusiastic and skilled participation of teachers, innovations to enrich education with the advantages offered by technology are doomed to fail…”. (UNESCO;17)

Sebagai bentuk pro-aktif, pada tanggal 1 November 2003, Kementerian Pendidikan Nasional menjalin kerjasama dengan Microsoft (salah satu pengembang perangkat lunak sistem operasi komputer dunia) dalam program Partners in Learning (PiL) untuk jangka waktu lima tahun, dengan tujuan; (1) memperkuat kemampuan TIK, (2) pengadaan sarana perangkat komputer disertai software berlisensi, (3) merumuskan strategi yang tepat dalam upaya mencapai keahlian tingkat tinggi dalam menggunakan TIK, (4) membantu guru, bagaimana mempersiapkan materi pembelajaran menggunakan TIK di dalam kelas. Realisasinya, pada Tahun Anggaran 2005, dilaksanakan pelatihan TIK untuk 75.075 orang Guru dan Kepala Sekolah se-Indonesia.

Pemerintah selanjutnya membuat Kebijakan dan langkah-langkah operasional agar pengintegrasian TIK ke dalam Sistem Pendidikan Nasional dapat berjalan efektif, dengan rumusan: (1) Memperjelas tujuan yang didukung oleh kebijakan nasional agar TIK dimanfaatkan dalam pembelajaran; (2) Pemerintah memberi dukungan dan/atau dorongan kepada lembaga-lembaga pendidikan, baik negeri maupun swasta agar menyiapkan fasilitas TIK (pembiayaan ditanggung negara, termasuk biaya perawatan, pembelian hardware dan software untuk lembaga pendidikan, investasi dalam mensponsori penelitian dan pengembangan hardware dan software dengan biaya terjangkau, dst). (3) Penyesuaian kurikulum untuk mengintegrasikan TIK dan mengembangkan atau meningkatkan standarisasi mutu materi pembelajaran digital serta software yang digunakan. (4) Kebijakan sekolah yang fleksibel dan menyenangkan sehingga memungkinkan guru membuat perencanaan yang baik untuk belajar TIK dalam mengawal  kurikulum. (5) Mengadakan monitoring dan evaluasi di tingkat nasional untuk melihat seberapa jauh tingkat efektivitas-nya, mendeteksi segala kemungkinan yang datang dan merumuskan jalan keluar yang tepat.

Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 128 Tahun 2007, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) meluncurkan program Beter Education trhought Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (BERMUTU), berupa pemberian Dana Bantuan Langsung (DBL) kepada Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKP), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) yang tersebar di 75 kabupaten/kota se-Indonesia. DBL  diberikan dan dipertanggungjawabkan melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) di tingkat Provinsi, berlangsung dari tahun 2009 hingga sekarang. Program yang memakan dana $US 195,1 juta yang bersumber dari kolaborasi bantuan luar dan anggaran dalam negeri tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi guru menghasilkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) serta melatih guru menggunakan TIK untuk pembelajaran.

Di lain pihak, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Putekkom) Kemdikbud yang memiliki tupoksi merancang dan mengembangkan pelatihan di tingkat Pendidikan Dasar hingga Perguruan Tinggi mengagendakan; tahun 2008 melaksanakan program kediklatan dengan melatih 5000 orang guru, 2009 untuk 500 guru dan 2010 untuk 660 guru. Materi kediklatannya difokuskan kepada Pemanfaatan TIK untuk pembelajaran.

Uraian di atas hanya segelintir yang diambil dari sekian banyak program peningkatan mutu guru di bidang TIK yang diawali bersamaan dengan revisi kurikulum. Cukup memberi gambaran bahwa Pemerintah tidak sekonyong-konyong menerapkan Kurikulum ‘Baru’ tanpa dilengkapi tools yang menyertainya. Pertanyaan yang muncul setelah dievaluasi;

  • Sejauh mana ‘perubahan’ itu terlihat  di lapangan?
  • Berapa persentase guru yang benar-benar memanfaat TIK sebagai sarana pembelajaran yang mampu memancing peserta didik berinteraktif dengan media, sesama teman, guru dan lingkungannya?
  • Apakah sudah terjadi peningkatan mutu pembelajaran ketika disajikan dengan kemasan TIK?
  • Mengapa kurun waktu 2004 – 2013 masih belum cukup untuk peningkatan skill secara signifikan?

Jawaban dengan nada yang hampir mirip muncul ketika diedarkan angket ke beberapa orang guru:

  • Belum seluruh guru mendapat kesempatan mengikuti kegiatan-kegiatan peningkatan kompetensi tersebut, baik berupa workshop, capacity building, atau ToT secara merata. Kebanyakan yang pergi diklat orang yang sama dengan berbagai alasan dan pertimbangan, sehingga muncul istilah ‘spesialis diklat (SpD)’.
  • Waktu pelatihan masih dirasa kurang (penyelenggaraan pelatihan sekitar 3 – 6 hari dalam setiap kegiatan).
  • Kecenderungannya selalu guru yang dilatih adalah guru yang sudah tahu TIK, dan materi yang diberikan sama.

Jika demikian, peningkatan kompetensi individu guru dalam menggunakan TIK masih tergantung sepenuhnya dengan dana dan fasilitas yang dianggarkan pemerintah (blockgrant). Motivasi yang ditimbulkan secara instrinsik sangat jarang ditemui. Muaranya adalah penilaian dan kesimpulan secara sepihak yang menyatakan bahwa setiap kegiatan yang diadakan pemerintah memiliki nuansa ‘proyek’. Ketika pernyataan itu muncul, timbullah perasaan ‘ketidakbutuhan’ akan pentingnya keterampilan TIK dalam pembelajaran. Praktis terlihat, ketika usai sebuah diklat atau pelatihan, selesai pula ‘proses pembelajaran’. Materi narasumber yang dikopi dengan penuh nafsu tidak pernah lagi dibuka, apalagi dipelajari.

Pelatihan peningkatan kompetensi guru yang diadakan negara bersifat stimulus, dengan harapan, setelah pelatihan peserta dapat mengembangkan sendiri secara mandiri dan yang terpenting: ‘mengimbaskan kepada teman sejawat, baik di institusi masing-masing, maupun dalam kegiatan kelompok kerja tingkat kabupaten/kota’. Ketika penunjukkan perwakilan peserta pelatihan dilakukan, pada saat itu juga pihak sekolah, pemerintah kabupaten/kota seharusnya sudah memetakan dan mengorientasikan kegiatan berikutnya di tingkat daerah. Laporan setelah mengikuti kegiatan dan rencanaan kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka pengembangan dan imbas dapat ditagih pada saat itu juga. Dengan demikian, peserta akan berusaha semaksimal mungkin untuk belajar dan mendalami materi kegiatan yang baru saja diikutinya, karena akan menjadi narasumber di tingkat daerah masing-masing. Sayangnya, mata rantai ini terputus dan terus terulang.

Hal di atas tidak terkecuali terjadi pada saat sosialisasi Kurikulum 2004 dan KTSP 2006. Pemanggilan perwakilan dari masing-masing bidang studi tingkat kabupaten/kota dilakukan secara bergelombang dan simultan. Materi diklat seperti: pembuatan dan pengembangan silabus dan penilaian, teknik pembelajaran, penyusunan rencana pembelajaran, teknis penetapan SKBM (KKM), analisis SKBM (KKM) serta bagaimana membuat laporan hasil belajar, diberikan dengan membagikan lembaran-lembaran kegiatan dan latihan. Namun apa yang terjadi? Sebagai contoh kecil, penetapan KKM di beberapa sekolah masih ada yang ditentukan dengan perkiraan tanpa analisis intake, daya dukung dan kompleksitas kompetensi yang diberikan.

Pelatihan bagaimana menjadikan pembelajaran menjadi PAKEM, PAIKEM hingga PAIKEM GEMBROT juga telah dilaksanakan. Selain itu, melatih guru berperan sebagaimana layaknya seorang aktor dalam teater, pernah juga diekspos di media masa elektronik. Membuat bahan ajar, menganalisis butir soal, teknik merancang media pembelajaran, dan sebagainya. Amat sedikiti yang benar-benar mengaplikasikan ketika kembali ke lapangan. Yang tersisa hanyalah selembar piagam sebagai tanda telah melaksanakan kegiatan, untuk dikonversi menjadi butiran angka kredit poin. Lebih memilukan lagi, piagam tersebut sulit ditemukan pada saat dibutuhkan karena tercecer entah di mana.

Tuntutan Guru di Abad ke-21

Terlalu banyak literatur yang menggambarkan keadaan sosial, budaya dan gaya hidup manusia yang telah bersentuhan dengan TIK. Fasilitas yang ditawarkan antara lain, sharing of resources, professional development of teachers research, gaining total quality management and distance education. Akan tetapi, keberadaan pendidikan masa kini merupakan proses dari peradaban masa lalu. Secara sederhana, fasenya dapat dikelompokkan sebagai berikut:

  1. Abad ke-14. Instruksi yang awalnya dibatasi dengan perantara dari mulut ke mulut, beralih ke bentuk naskah. Perbedaan individu belum mendapat perhatian khusus karena mereka lebih menekankan pada naskah.
  2. Pada abad ke-15 seni cetak dikembangkan. Buku yang dicetak kebanyakan mengambil topik keagamaan dan sastra.
  3. Abad ke-17. John Comenius memperkenalkan buku teks untuk anak-anak. Dia menghasilkan buku bergambar tahun 1657. Dia menulis sekitar seratus buku teks yang diedarkan untuk kalangan terbatas. J. Rosseau, H. Spencer, Froebel, Pesstallozi dll membantu dalam mengubah konsep konstruksi dan peserta didik. Peserta didik dijadikan objek sentral. Berikutnya datang J. Dewey, mencoba untuk memperkenalkan metode ilmiah dalam pendidikan. E. Thorndike melakukan eksperimen dan mengedepankan teori belajar. Lalu datanglah beton abstrak kontinum John Adam, yaitu, mendefinisikan obyek-acara model-diagram menjadi deskripsi verbal.
  4. Abad ke-20. Dalam abad ini, kita, memiliki ilmu lainnya seperti rekaman suara, fotografi dan sebagainya (multimedia) sedang dikembangkan dan ini ditambahkan ke proses belajar dan mengajar. semua ini membantu perkembangan teknologi pendidikan.
  5. Abad ke-21 ditandai dengan pesatnya perkembangan gadget, sehingga memungkinkan manusia sekarang hidup dengan multytasking, mengubah antropologi sosial dengan fasilitas yang telah disediakan di ujung jari. Peserta didik dengan mudah dan murah mendapatkan informasi dan berbagi informasi kepada siapa saja di permukaan bumi ini.

Di berbagai sekolah memang telah disediakan sarana dan prasarana sebagai penunjang proses pembelajaran dengan menggunakan TIK, seperti proyektor dan layar monitor. Akan tetapi seringkali yang ditampilkan cuplikan poin-poin penting dari lembaran buku. Tampilan slide bukannya berfungsi sebagai mediasi bagi siswa untuk memancing kegiatan interaktif, berpikir tingkat tinggi, namun lebih kepada menolong guru sendiri untuk membaca kembali bagian-bagian (materi pelajaran) yang belum dikuasainya. Pembelajaran kembali disajikan dengan cara membosankan. Padahal guru tersebut berada di antara ‘digital students’.

Digital Students muncul seiring berkembangnya media digital dan TIK dengan fasilitas multimedia-nya. Bersamaan dengan itu, bermunculan juga istilah e-generation, v-generation dan m-generation. Mereka tumbuh dan terkoneksi satu dengan lainnya melalui SMS, telpon genggam, ruang chating dan email, serta simulasi permainan komputer, musik dan televisi. Mereka terbiasa berhubungan lebih dari satu koneksi (multiconnection), beraktifitas lebih dari satu kegiatan (multitasking), menyantap makanan siap saji (fastfood), zero tolerance dengan yang namanya delay. Komunitas mereka berada di dunia maya. Dari sana mereka menjalin persahabatan, curah pendapat, membagi keceriaan dan kegalauan, bahkan dengan orang yang belum pernah dikenal dalam kehidupan dunia nyata.

Melimpahnya informasi memungkinkan mereka belajar secara otodidiak dengan narasumber pertama (native) melalui video youtube, modul dan tutorial teks, dan sebagainya. Sebuah tamparan bagi sekolah-sekolah yang memaksa kembali peserta didik ke zaman bahoela, baik bahan pembelajaran, teknik dan alat praktikum, media dan metodologi pembelajaranya serta paradigma guru dan pemangku kepentingan yang mengurus pendidikan dengan pola pikir kada luarsa (out of date). Jika demikian, apakah sekolah masih memiliki kebanggaan bahwa yang mereka hasilkan (lulusan) adalah hasil proses pembelajaran di bangku sekolah? Bukankah peserta didik, setelah jam pelajaran wajib sekolah berakhir, masih harus ditambah dengan les, kursus atau bimbingan belajar di tempat dan di lain waktu?

Fenomena di atas ada dan nyata di sekitar kita. Sudah selayaknya peningkatan kompetensi dan mutu dijadikan prioritas utama pada masing-masing guru. Salah satu dorongan dari luar (ekstrinsik) yang disediakan pemerintah untuk meningkatkan motivasi adalah tunjangan profesional guru. Dari sana dapat diciptakan aktifitas kolaborasi serta menciptakan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dalam peningkatan keprofesionalan. Laptop dan proyektor sudah selayaknya dimiliki secara pribadi untuk kelancaran proses pembelajaran. Paradigma bahwa peralatan tersebut disediakan sekolah telah bergeser dan perlu dikoreksi kembali.

Penutup

Usia, ketersediaan waktu dan kesempatan, fasilitas dan kemudahan eksternal, bukan alasan utama penghalang peningkatan kompetensi guru di bidang apa saja. Kurikulum 2013, menuntut kreatifitas dan inovasi guru dalam memaketkan pembelajarannya secara utuh dan mendalam. Tuntutan agar siswa dapat ‘berpikir kritis, ilmiah, komunikatif, berkepribadian luhur dan terpuji serta menguasai iptek dan berbudaya serta memiliki daya saing internasional’ selayaknya ‘dilakoni’ terlebih dahulu oleh seorang guru. Standarisasi mutu minimal guru mengalami perkembangan dan peningkatan, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

Amat disayangkan, Kurikulum 2013 tidak lagi mencantumkan TIK sebagai mata pelajaran pokok, di saat lingkungan budaya membutuhkan itu. Jawaban diplomatis seperti: “tidak ada penghilangan mata pelajaran dalam Kurikulum 2013” sering kita dengar. Bagaimana dengan nasib guru (kelangsungan tunjangan sertifikasi) dan jam pembelajarannya? Mungkin masih bisa dijawab dengan: “…tidak ada yang dirugikan, akan dibuat regulasi dan ketentuannya”. Namun dampak negatif yang sangat berbahaya adalah: berkurangnya minat (kegairahan) Generasi Muda Indonesia sekarang untuk masuk dan mengambil pendidikan pada jurusan-jurusan TIK karena lapangan kerja di bidang itu diciutkan. Efeknya memang tidak dirasakan pada saat sekarang melainkan 15 atau 20 tahun yang akan datang. Akibatnya, sementara generasi muda di belahan dunia lain semakin tegak dan berkibar mengekspor ekonomi kreatifnya yang dibalut teknologi informasi dan komputerisasi, kita masih menampilkan ‘kebodohan’ melalui slide presentasi dengan angka-angka keterpurukan dibandingkan dengan negara-negara muda yang baru merdeka.

Mohon dipertimbangkan untuk menghidupkan kembali pembelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi di sekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah umum. Jika perlu lebih awal lagi, pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Selamat datang Kurikulum 2013.***

——————————————————————————————————————

Referensi:

Andone, Diana, Jon Dron and Lyn Pemberton, Developing a Desirable Learning Environment for Digital Student, Old City Publishing, Inc.; 2009.

Hirtz, Sandy, at al. Education for a Digital World: Advice, Guidelines, and Effective Practice from Around the Globe, BCCampus and Commonwealth of Learning, 2008.

McMahon, Mark and  Romana Pospisil, Laptops for a digital lifestyle: Millennial students and wireless, Edith Cowan University; 2005.

National Council of Teachers of  English, NCTE Framework for 21st Century Curriculum and Assessment, Kenyon Road Urbana Illionis, 2013.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemdiknas; 2006.

Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014, Kemdikbud; 2010.

Williamson, Ben and Sarah Payton, Curriculum and Teaching Innovation. Transforming Classroom Practice and Personalisation Mobile Technologies, Futurelab; 2009.

——————————————————————————————————————-

2 thoughts on “‘Classic Teachers’ versus ‘Digital Students’ (Sebuah Refleksi Menyambut Kelahiran Kurikulum 2013)

  1. Ping-balik: ‘Classic Teachers’ versus ‘Digital Students’ (Sebuah Refleksi Menyambut Kelahiran Kurikulum 2013) | Artikel LPMP Sumatera Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s