CEMAS

Pada saat tulisan ini dibuat, Januari hampir menghabiskan paruh pertamanya. Artinya, 2012 telah berlalu. Namun serangkaian kegiatan dan agenda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya di bagian  Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan (BPSDMP) yang diselenggarakan oleh LPMP di tingkat Provinsi, begitu padat pada tahun tersebut.

Sosialisasi pengisian instrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS) memasuki tahun ke tiga penyelenggaraan. Perubahan cukup signifikan dari format, teknis pengambilan responden, pengisian instrumen hingga melahirkan Profil Mutu Sekolah, RKS dan RKAS, sehingga cukup memakan energi untuk memberi pengertian ke satuan pendidikan tentang latar belakang perubahan tersebut.

Kegiatan lain yang yang cukup menghebohkan adalah penyelenggaraan Uji Kompetensi Guru (UKG). Berbagai polemik timbul di berbagai media cetak dan elektronik tentang UKG ini yang diselenggarakan secara on-line. Pesimis tentang hal-hal mendasar, seperti; bisakah kegiatan tersebut dilaksanakan? Mampukah daerah mempersiapkan sarana dan prasarananya? Pertanyaan berlanjut, sanggupkah seluruh guru-guru kita mempergunakan komputer untuk menjawab materi uji? Guru yang mengajar di tingkat menengah masih mendingan, namun bagaimana dengan guru sekolah dasar yang berada di pelosok daerah yang belum bersentuhan sama sekali dengan media on-line dan bahkan belum bisa komputer?

Pertanyaan di atas akhirnya dapat dijawab setelah kegiatan tersebut dijalankan. Walau hari pertama UKG on-line masih terkendala secara teknis, namun dapat diatasi dalam waktu singkat. Hasilnya, rata-rata UKA 2012 42,25, nilai tertinggi 97,0 dan nilai terendah 1,0 dari 281.016 (98 persen guru yang sudah bersertifikat profesional). Dari sana terpetakan kemampuan pedagogik dan penguasaan materi ajar yang sifatnya kognitif dari seluruh peserta ujian.

Sudah berakhirkan polemik tersebut? Kelihatannya tidak, karena pertanyaan lanjutannya masih ada. UKG tidak mengukur seluruh kompetensi guru. Bagaimana dengan kemampuan profesianal guru dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran? Bukankah itu yang menjadi tugas utama guru? Bagaimana dengan kompetensi sosialnya?

Sekarang sudah tahun 2013. Beberapa agenda kegiatan yang selama ini sudah disosialisasikan secara praktis akan dilaksanakan. Permeneg PAN & RB nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, menciutkan Jabatan Guru menjadi empat tahapan saja, yaitu; Guru Pertama, Guru Muda, Guru Madya dan Guru Utama. Pengajuan usulan penghitungan angka kredit (DUPAK) minimal satu kali dalam satu tahun, yang selama ini diperbolehkan mengirim kapan saja. Sifat dari DUPAK adalah pelaporan kegiatan yang telah dilaksanakan selama satu tahun di belakang.

Kegiatan selanjutnya adalah Penilaian Kinerja Guru (PKG). Dari PKG akan diketahui unjuk kerja guru dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran. Dari sini akan terpetakan kemampuan guru secara psikomotorik yang tidak terukur dalam kegiatan UKG. Tim penilai akan mencermati perencanaan pembelajaran guru, mengamati kegiatan guru dan siswa di dalam kelas ketika melaksanakan pembelajaran, dan menelaah alat evaluasi pembelajaran yang dipersiapkan guru dalam mencapai kompetensi dasar tertentu.

Yang tidak kalah heboh adalah munculnya Kurikulum 2013. Ketika artikel ini dibuat masih menjadi wacana dan kupasan pembahasan di berbagai tempat. Masih dalam taraf uji publik yang ditampilkan dalam format power point, draf dan gambaran. Namun dari hasil diskusi di berbagai media, dapat disimpulkan bahwa yang timbul adalah rasa ‘cemas’.

Cemas, menurut kamus Bahasa Indonesia adalah perasaan tidak tenteram hati (krn khawatir, takut); gelisah. Berbagai alasan dan argumen dapat diutarakan jika seseorang merasa cemas. Perasaan cemas biasanya timbul pada saat akan berhadapan/menempuh sesuatu yang belum pernah dialami selama ini, terutama perubahan. Perubahan akan mendobrak kemapanan, dan juga ‘kenyamanan’ dengan yang selama ini ada. Yang paling up to date adalah Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji materi atas Pasal 50 ayat 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur soal Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Dampak dari keputusan itu adalah dihilangkannya RSBI dalam sistem pendidikan di Indonesia.

Sebagai penutup, ada baiknya kita renungkan apa yang ditulis Michael Fullan dalam bukunya The New Meaning of Educational Change (fourth edition), Teacher College, Columbia University; 2007 yang menyatakan: “If people were given a literal choice of “change or die,” do you think most people would choose change? If you said yes, think again”.***

***Selamat Tahun Baru 2013, Selamat Datang Perubahan***

One thought on “CEMAS

  1. aku malah semangat pak…cuman agak-agak curiga…..bener nih pada mikir ke yang lebih baik….curiganya…apapun perobahan yang dilakukan….tetap aja..pola monoton itu yang terjadi….EDS…belum tentu diisi sebenarnya…kurikulum 2013….taunya pada nggak PD jalaninnya….jadinya yah…kayak.dulu dulu lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s