Habibie, Teknologi, Seni dan Cinta

habibie

PUISI HABIBIE UNTUK AINUN

Ainun…

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu,
bukan itu.
Karena,
aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya
dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,
aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. 
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, 
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, 
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. 
selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, 
selamat jalan,calon bidadari surgaku ….

habibie 2

Satu per satu kata dan kalimat yang dirangkai menjadi bait puisi di atas kubaca perlahan. Baru beberapa bait kulewati, tenggorokanku seakan tersedak. Air mataku tiba-tiba berlinang. Kuhentikan sejenak, agar tidak terlalu hanyut, tanpa berpaling dari tulisan. Khawatir dilihat peserta diklat yang saat itu kupimpin.

Aku terpana setelah puisi singkat tersebut tuntas kubaca. Mataku nanar. Kuhela nafas panjang dengan harapan dapat menenangkan diri. Laptop di hadapanku masih terkembang. Enggan kututup, walau panitia sudah mengingatkanku untuk segera ke ruang makan, sekaligus istirahat dan sholat Dzuhur.

Sesaat kemudian, tangan kananku kembali bergerak menggeser-geser mouse. Kubuka e-mail yang sudah dua hari tidak kubaca. Beberapa mailinglist sedang membahas topik ‘Puisi Habibie untuk Ainun’. Aha,… aku tidak sendiri. Ada yang sebatin denganku. Juga meneteskan air mata, seperti Anda jika menghayatinya.

Bacharuddin Jusuf Habibie (lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936; umur 76 tahun) adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Ia menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Jabatannya digantikan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang terpilih sebagai presiden pada 20 Oktober 1999 oleh MPR hasil Pemilu 1999. B.J. Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962, dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Kalimat di atas penggalan dari informasi yang ditulis di http://id.wikipedia.org/wiki/Bacharuddin_Jusuf_Habibie. Cukup panjang informasi tersebut, namun tidak ditemukan sisi uniknya dari seorang Habibie, selain sebagai teknokrat, negarawan, dan seorang ‘guru’.

Sebagai teknokrat, tidak dapat dipungkiri bahwa dunia mengenal BJ Habibie lebih kepada kejeniusannya dalam memecahkan masalah kestabilan konstruksi bagian belakang pesawat Fokker 28 dalam kurun waktu 6 bulan. Selanjutnya Beliau menyelesaikan desain pesawat utuh berupa prototipe DO-31, pesawat baling-baling tetap pertama yang mampu tinggal landas dan mendarat secara vertikal, yang dikembangkan HFB bersama industri Donier, yang akhirnya menarik perhatian NASA untuk membeli rancangan tersebut. Pesawat Airbus A-300 tidak luput dari sentuhan idenya.

Masih panjang yang akan diuraikan jika ingin menggali referensi kecendikiaan seorang Habibie. Namun sangat langka sumber data tentang kejeniusan beliau dalam berolah-seni. Kedahsyatannya menggunakan kamera (phoptography) dan puisi mungkin hanya sepenggal yang kita ketahui. Namun jelas, apa yang beliau hasilkan sebagai buah karya adalah ‘suara hati’. Dan ‘suara hati’ adalah bahasa ‘universal’.

Jiwa teknokrat dan seniman tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Leonardo daVinci dan Michaelangelo adalah segelintir nama di zaman reneisance yang mengkolaborasikan ke dua jiwa tersebut. Di tanah air kita mengenal sosok Ir. Soekarno, Sang Arsitek Jembatan Ampera dan Semanggi, Presiden pertama Indonesia. Di tempat pengasingannya masih bergelora semangat menghimpun sanggar tonil dan pementasan drama serta membuat beberapa lukisan naturalis.

‘Teknologi adalah ilmu dan seni membuat dan menggunakan sesuatu’ (Jendela Iptek; Balai Pustaka, Jakarta, Hal. 6). Sebuah definisi ringkas yang sarat makna. Itulah yang pernah diperbuat oleh orang-orang besar dari waktu ke waktu. Ilmu erat kaitannya dengan ‘logika’, yang biasa dibahasakan melalui lisan dan tulisan. Seni sebagai penyeimbang berada ditatanan ‘estetika’, bahasanya ‘suara hati’, sifatnya ‘universal’. Perpaduan keduanya akan menghasilkan ‘etika’, tingkah laku dan sopan santun. Muaranya adalah prilaku pribadi, komunitas, adat istiadat dan budaya. Tatanan dari semua itu adalah pendidikan sepanjang hayat. Wujudnya adalah ‘karakter’, walaupun abstrak namun dapat dirasakan. Lemah-lembut, sopan-santun, bengis dan beringas adalah outcome dari hasil tempaan lingkungan, pergaulan, tontonan dan tuntunan yang tertanam dan menghujam ke sanubari dari detik ke detik. Itulah ‘pendidikan’.

Habibie mungkin hanya salah seorang hamba-Nya yang diberi kesempatan dicuatkan Allah ke permukaan guna memperlihatkan bagaimana hati yang lembut dapat membentuk dunia. Tidak dengan kekerasan, tidak dengan kebringasan, mengusung laskar, mengepalkan tinju, menghunus belati, melempar membabi buta dengan mengerahkan massa. Tidak…, karena aliran darah yang beredar di seluruh tubuhnya adalah ‘CINTA’. Setidaknya itu yang dapat disaksikan lewat getaran suaranya ketika ditanya tentang seberapa besar cinta dan artinya seorang Ainun di mata Habibie dalam sebuah acara televisi.

Dapatkan cinta membentuk karakteristik seseorang? Tidak perlu penelitian lebih jauh untuk mengumpulkan data dalam menguji pertanyaan di atas. Lihatlah apa yang terjadi di sekitar kita sekarang. Bahkan diri kita sendiri. Semua karena cinta. Lemah-lembut dan beringasnya karakteristik, tergantung siapa dan apa yang kita ‘cintai’. Tumbuhnya di dalam hati, mencuat ke alam psikomotorik, menghasilkan teknologi, seni dan etika. Perpaduannya menghasilkan peradaban. Lahirlah sederet prasasti seperti Taj-Mahal, Pyramida, Spink, Parthenon, Borobudur dan sebagainya.

Pertanyaannya, bagaimana jika dikaitkan dengan profesi kita sebagai seorang guru? Bisakah dikawinkan ilmu dan seni di dalamnya? Mulai dari merancang pembelajaran, metode pembelajaran, media dan cara mengevaluasi hasil belajar, pendekatan kepada siswa, teman sejawat, orang tua siswa dan komite? Pernahkah kita berbicara dengan ‘cinta’, ketulusan, kejujuran?

Ah,… tiba-tiba panitia diklat mengingatkanku kembali untuk istirahat, sholat dan makan. Waktu jeda siang telah kugunakan untuk merenungkan sejumput karya besar Habibie, Sang Legenda Hidup.

“Hanya manusia yang tidak memiliki ‘etika’ yang akan mencelanya…” lirihku sambil mematikan laptop dan menggulung charger.***

***SELAMAT HARI IBU – DAN TAHUN BARU***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s