Digital, Komputerisasi dan Bahasa Pemrograman

PENDAHULUAN

Digitalisasi di semua lini teknologi menjadi booming di awal tahun ke dua ribu dalam sejarah peradaban manusia. Upaya manusia purba mengaktualisasikan dirinya melalui proyek yang serba mega ternafikan dengan berlombanya manusia moderen meminimalisasikan hasil karyanya berupa chips yang bisa jadi pada suatu saat menjadi tidak kasat mata.

Ada dua kemungkinan jika ke dua perbandingan peradaban ini dipertemukan. Bisa saling berdecak kagum, atau malah saling merendahkan. Manusia (yang dianggap) purba telah membangun peradaban dengan tetesan keringat, otot dan otak, sementara manusia (yang dianggap) moderen memeras otak, mengerdilkan fungsi otot dan enggan keringatnya keluar karena disiram dinginnya air coditionning serta keserbamudahan dengan adanya remote control.

Manusia moderen purba telah membuat mega proyek pyramid, spinx dan mempraktikkan teknik pembalseman manusia (mummy) pada tahun 2560 SM, sementara manusia moderen sekarang yang hidup pada tahun 2011 M belum dapat mengungkap secara pasti teknologi apa yang digunakan bangsa Mesir tersebut. Namun jika dihadapkan dengan microchip yang mampu menggerakkan benda sebesar pyramid tersebut, manusia moderen purba akan berpikiran lain.

Ilustrasi di atas menggambarkan bagaimana dewasa ini kebudayaan dan gaya hidup manusia begitu berubah. Teknologi yang serba analog secara pasti digeser dengan digitalisasi hampir di semua lini gaya hidup (lifestyle). Susunan rak buku yang memenuhi sebuah gedung perpustakaan pada suatu saat tidak akan ditemukan lagi, diganti oleh lembaran-lembaran kertas digital Portable Document Format (PDF) yang dapat diterjemahkan komputer secara visual.

DIGITAL, KOMPUTERISASI dan BAHASA PEMROGRAMAN

Digital dan komputerisasi merupakan rangkaian bahasa berupa data untuk menghasilkan informasi. Data tersebut dapat berupa huruf, angka, grafik, diagram dan sebagainya. Bahasa pemrograman akan mengolah data tersebut di dalam komputer. Agar dapat dibaca, data yang masuk dikonversikan terlebih dahulu ke dalam bilangan biner (0 atau 1). Komputer kemudian mengubah semua data yang masuk menjadi informasi dengan susunan sedemikian rupa sehingga memiliki makna yang bisa dipahami manusia. Siklus urutannya  adalah user, input, central processing unit, output, user. Ini-lah yang mendasari mengapa disiplin ilmu di bidang komputer tersebut dinamakan Information and Communication Technology (ICT) atau Teknologi Infomatika dan Komunikasi(TIK).

Jantung dari ilmu komputer dan informatika adalah algoritma. Banyak cabang dari ilmu komputer yang diacu dalam terminologi algorima, misalnya algoritma perutean (reuting) pesan di dalam jaringan komputer, algoritma brensenham untuk menggambar garis lurus (grafika komputer), algoritma Knuth-Morris-Pratt untuk mencari suatu pola di dalam teks (bidang information retrievel) dan sebagainya. Algoritma berfungsi sebagai skema untuk menerjemahkan kode-kode ke dalam bahasa pemrograman agar bisa dieksekusi komputer menjadi bahasa yang dimengerti manusia. Teks algoritma merupakan desain penyelesaian masalah. Agar dapat dieksekusi oleh komputer, algoritma terlebih dahulu harus diterjemahkan dalam notasi bahasa pemrograman yang dinamakan dengan translasi.

Sebuah algoritma merupakan deskripsi langkah-langkah pelaksanaan suatu proses. Setiap langkah di dalam algoritma dinyatakan dalam sebuah pernyataan (statement) atau instruksi. Sebuah pernyataan berisi sebuah aksi (action) yang akan dilaksanakan. Bila sebuah pernyataan dieksekusi oleh pemroses, maka aksi yang bersesuaian dengan pernyataan itu dikerjakan. Langkah-langkah tersebut dapat berupa runtutan aksi, pemilihan aksi dan pengulangan aksi.

Terdapat beberapa bahasa pemrogaman hingga saat ini, antara lain bahasa rakitan (assembly), Fortran, Cobol, Ada, PL/I, Algol, Pascal, C, C++, Basic, Prolog, LISP, PRG, bahasa-bahasa simulasi seperti CSMP, Simscript, GPSS, Dinamo dan sebagainya. Terakhir muncul bahasa pemorgraman baru seperti Java dan C#.

TOKOH DIBALIK ALGORITMA

Kata ‘algoritma’ tidak pernah muncul dalam kamus Webster sampai akhir tahun 1957. Yang dikenal hanyalah ‘algorism’ yang berarti proses menghitung (to compute) dengan angka Arab. Jika Anda menggunakan

proses menghitung dengan mempergunakan angka Arab (0 s/d 9), maka Anda dikatakan algorist. Tentu saja hal tersebut sangat minim untuk dijadikan referensi dari sebuah kata penting dalam perkembangan dunia digital dan komputerisasi.

Akhirnya diketahui bahwa asal kata ‘algorism’ berasal dari nama penulis buku Arab, seorang cendikiawan Muslim; Muhammad ibnu Musa al-Khuwarizmi. Al-Khuwarizmi di lidah orang Barat menjadi algorism.

 

Muhammad ibnu Musa al-Khuwarizmi (Khwarizmi) adalah seorang penulis buku monumental ‘al-Kitab al-mukhtasar fi hisab al-gabr wa’l-muqabala’ pada abad ke-9 masehi yang di Inggris terkenal dengan nama “The Compendious Book on Calculation by Completion and Balancing“. Buku tersebut menjadi peletak dasar matematika moderen. Dari buku inilah dunia matematika moderen mengenal istilah aljabar. Aljabar berarti ”pertemuan” atau ”hubungan.” Aljabar merupakan cabang matematika yang dapat dicirikan sebagai generalisasi dan perpanjangan aritmatika.

Khuwarizmi dilahirkan pada tahun 194 H/780 M di Khwarizm, Uzbeikistan, merupakan seorang ilmuwan jenius pada masa keemasan Islam di kota Baghdad, pusat pemerintahan Kekhalifahan Abbasiyah.

Sumbangan Al-Khwarizmi dalam ilmu ukur sudut juga luar biasa. Tabel ilmu ukur sudutnya yang berhubungan dengan fungsi sinus dan garis singgung tangen telah membantu para ahli Eropa memahami lebih jauh tentang ilmu ini. Ia mengembangkan tabel rincian trigonometri yang memuat fungsi sinus, kosinus dan kotangen serta konsep diferensiasi.

PENUTUP

Teknologi pada prinsipnya untuk membantu mempermudah kehidupan manusia. Rangkaian panjang sejarah peradaban manusia hingga saat sekarang bagaikan mata rantai yang saling berkaitan satu dengan lainnya. Komputerisasi merupakan bagian dari teknologi tersebut menjadi salah satu solusi. Dengan berorientasi kepada hasil, maka proses yang terjadi dalam sebuah sistem komputer sering terlupakan.

Peralihan dari dimensi analog ke dimensi digital menuntut kerja kreatif yang tidak dapat dilepaskan dari andil seorang cendikiawan muslim al-Khuwarizmi. Dengan logika pemrogramannya dunia Barat memanfaatkannya untuk memakmurkan diri sendiri. Hasil kreativitasnya dinikmati oleh banyak orang hingga akhir zaman, termasuk pengembang software berlisensi. Orientasi materi dan duniawi dengan ikatan Hak Kekayaan Intelektual mengharuskan setiap yang mempergunakan imbas pemikiran kreatif seorang al-Khuwarizmi harus menukar dengan patokan dollar. Inilah yang membuat teknologi tersebut menjadi mahal dan eksklusif.

Untung manusia moderen sekarang belum menemukan formula yang pasti bagaimana rahasianya bangsa Mesir membangun pyramid, spinx serta praktik pembalseman jenazah dengan cara tradisionil. Kalau tahu, pasti dipatentkan juga…

—–

Rujukan;

Goldschlager, Les & Lister, Anfrew, Computer Science, A Modern Introduction, Edisi kedua, Prentice Hall; 1988.

Jack Febrian, Pengetahuan Komputer dan Teknologi Informasi, Informatika Bandung; 2004.

Munir, Rinaldi, Algoritma dan Pemrograman, Informatika, Bandung; 2007.

–o0o–

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s