Warna Itu Ternyata Berwarna-warna

1. Pembukaan

Pagi itu Pak Jufri bersenandung ria. Perasaannya sedang senang, pasti. Senandung yang keluar dari tenggorokannya tidak terlalu nyata, namun dari nadanya dapat saya pastikan, lagu yang dinyanyikannya adalah ‘Makhluk Tuhan Paling Seksi’ dari Mulan Jameela. Kadang terdengar liriknya coba dilafazkan. Namun melenceng kemana-mana, tidak sesuai lagi dengan aslinya. Dengan sekenanya, Pak Jufri meneruskan lagu tersebut (tanpa rasa berdosa), sambil membenahi meja kantornya, untuk kemudian menuju kelas. Mengajar. Saya sengaja membuntutinya dari belakang, karena lokal tempatku mengajar bersebelahan dengan lokalnya Pak Jufri. Sampai di pintu masuk, Pak Jufri baru menghentikan senandungnya Mulan yang telah dirusaknya.

Pak Jufri tidak hafal lagunya Mulan? Sebetulnya tidak begitu masalah. Tidak hafal juga tidak apa-apa. Toh sebentar lagi pudar dan punah dari peredaran. Dilupakan. Tapi kalau ‘Pelangi’ atau ‘Balonku’ tidak tahu, itu baru kuper, kurang gaul. Atau malah tidak pernah bergaul sama sekali ketika kanak-kanak. Lalu, apanya yang istimewa dari ‘Pelangi’ dan ‘Balonku’? Selain sederhana dan mudah diingat, lagu tersebut juga memperkenalkan pengetahuan warna sejak dini kepada siapa saja yang menyanyikannya. Sangat humaniora dan membumi.

Bicara tentang warna, banyak sekali yang harus dikupas tentang masalah yang satu ini. Warna adalah bahagian dalam kehidupan di keseharian kita. Bayangkan jika tidak ada warna di alam ini. Pasti tidak terbayangkan. Memang sulit untuk dibayangkan, karena salah satu persyaratan setiap benda baru berwujud dan dikenal jika ada dimensi warna pada permukaannya. Dapatkah Anda membedakan mangga matang dangan yang sudah ranum atau busuk tanpa bantuan warna? Sifat warna dalam hal ini untuk memperjelas objek yang disajikan. Apalagi jika sedang kampanye pemilu. Semakin bewarna.

2. Warna Sebagai Unsur Desain

Warna sebetulnya merupakan salah satu unsur sebuah desain, di samping garis, bidang, bentuk,  dimensi, ruang, tekstur, nada (gelap terang), dan arah. Sebagai sebuah unsur desain, tentu ada kaedah-kaedah tertentu yang harus diperhatikan sebagai pedoman  bagi seorang desainer.

a. Lingkaran Warna

Lingkaran atau piring warna adalah susunan melingkar (siklus) dari beberapa warna pokok (primer) dan beberapa warna turunannya (sekunder).

warna1.jpg

Warna primer atau warna pokok adalah warna-warna yang tidak dapat dihasilkan dari pencampuran warna lainnya. Dari pengertian di atas maka hitam, putih, emas dan perak dapat dimasukkan dalam kategori warna pokok. Namun karena hitam, putih, emas dan perak tidak menampakkan kroma tertentu, maka warna-warna tersebut danggap bukan warna. Bahkan sebahagian orang ada yang mengelompokkan hitam dan putih sebagai ‘warna netral’, dapat dipasangkan sebagai penetralisir bagi warna apapun. Dengan alasan tersebut, maka warna pokok hanya terdiri dari warna kuning, merah dan biru. Skema warna di atas dikenal juga dengan skema warna triadic karena masing-masing warna tersebut terletak pada titik sudut segitiga sama kaki dalam lingkaran warna.

Apabila dua warna pokok dicampurkan dengan kadar yang sama (100% : 100%), maka dihasilkan sebuah warna baru yang dinamakan warna ke dua (sekunder; dari kata second) atau warna turunan.

warna2.jpg

Dari percampuran warna merah dan kuning menghasilkan warna oranye, merah dengan biru menghasilkan ungu, sedangkan biru dengan kuning kita dapati warna hijau. Oranye, ungu dan hijau adalah warna sekunder.

Di antara merah dan ungu, masih terdapat  jutaan gugus warna merah keungu-unguan atau ungu kemerah-merahan yang tidak terhingga banyaknya. Demikian juga antara ungu dan biru, kuning dan oranye, oranye dan merah, biru dan hijau serta hijau dengan kuning.

warna4.jpg

Rentangan warna yang bersebelahan yang berjumlah jutaan tersebut dinamakan ‘Warna Analogus’. Warna yang berdekatan ini sering juga dinamakan warna-warna harmonis dan senada (matching), seperti  kuning merentang hingga hijau. Hijau merentang hingga biru. Biru merentang hingga ungu, dan seterusnya.

warna18.jpg

warna19.jpg

warna17.jpg

Kesan kontras dapat dilihat jika warna komplementer ini didekatkan satu dengan yang lainnya. Jika dalam penampilan (busana) warna ini tabu untuk disandingkan, namun dalam desain grafis (cetak) atau desain grafis multimedia, para desainer terkadang sengaja menempatkan warna-warna ini dalam satu frame agar media tersebut mempunyai greget dan tekanan (emphasis). Sebagai contoh dapat kita lihat beberapa ilustrasi di bawah ini:

warna5.jpg

warna6.jpg

Dari contoh di atas dapat kita analisa, seandainya merah dengan hijau (sebaliknya) didekatkan, paling tersamar sosoknya dibandingkan dengan perpaduan warna yang lainnya. Hal itu  disebabkan kroma yang tidak cukup untuk saling menunjang dalam memberi tingkat kecerahan satu dengan yang lainnya. Untuk menyiasati hal ini, para desainer biasanya memberikan hitam atau putih sebagai penetralisir (penengah) agar ke dua warna ini tidak saling ngotot. Karena hitam masih terlalu ‘gelap/berat’ untuk bisa mengangkat kroma ke dua warna ini, maka alternatif ke  dua dicoba yaitu dengan memasukkan putih. Lihat hasilnya.

Kadang desainer kurang suka muncul ketegasan kontur dalam warna penetralisir tersebut. Dalam kasus ini, muncullah istilah outer glow. Efek outer glow memberi kesan pencahayaan (sign) yang datang dari belakang huruf (font).

warna26.jpg

warna8.jpg

Kalaupun hitam ingin dimasukkan sebagai penetralisir, sebaiknya diletakkan pada bahagian bayang-bayang benda (shadow). Ini bisa lebih mempertegas sosok benda/font tersebut agar lebih terlihat nyata. Strategi ini rasanya cukup ampuh untuk menampik teori yang selama ini berkembang bahwa jika warna komplementer didekatkan akan terlihat norak, mblereng dan membaur secara kacau. Memang masih terlihat ada yang mengganjal dan kurang sedap dipandang, namun dapat diminimalisasi kesan negatif tersebut dengan munculnya warna-warna netral.

warna71.jpg

a. Tint dan Shade

Bicara putih dan hitam, tanpa terasa kita memasuki pembahasan  ‘Tint dan Shade’. Tint adalah unsur putih yang dimasukkan ke dalam salah satu warna di antara gugus lingkaran warna. Semakin banyak unsur putih dimasukkan ke dalam warna yang lain, maka warna yang lain tersebut semakin pucat. Kesannya melembut, seperti merah akan terlihat pink, biru terkesan menjadi biru muda dan sebagainya. Jika direntang, maka pengaruh tint ini akan memunculkan warna analogus (masih ingat pengertian warna analogus?) sejuk.

warna9.jpg

Sedangkan shade adalah warna yang telah dicampur hitam. Warna-warna shade terkesan memberat, kusam, jorok dan dekil. Namun jika ditempatkan dengan tepat, hasilnya akan terlihat lain.

warna10.jpg

Implementasinya dapat kita lihat di bawah ini.

warna11.jpg

Yang diberi tint adalah tulisan/font sebagai latar depan (front ground) dan yang diberi shade adalah latar belakang (back ground). Jatuhnya shade berada sebelah kanan bawah. Hal ini disengaja karena nuansa tint dari warna biru dimulai dari bawah. Dengan demikian sosok tulisan tersebut terlihat nyata bila dibaca jika shade (shadow) diletakkan sebelah bawah. Coba Anda praktikkan untuk alternatif yang lain.

a. Intensitas / Value

Tint dan shade memberikan value/intensitas yang dapat dimanfaatkan sebagai efek gelap terang pada sebuah benda. Dengan pemberian tingkatan value tertentu, maka dimensi benda dapat dimanipulasi sehingga terlihat benda tersebut seolah memiliki tonjolan (emboss) dan kedalaman (dimensi).

warna12.jpg

Bagi desainer grafis multimedia, efek ini sering diterapkan pada bar, tombol (button), icon, atau untuk banner, dan sebagainya, sehingga terkesan realis. Efek tiga dimensi ini dapat dimunculkan dengan hanya mengolah warna karena sifat warna itu sendiri yang memiliki hue, value, dan chroma. Hue menunjukkan dimensi mendatar dalam rentangan warna, value menunjukkan nada/tone (berat dan ringan) warna, seperti halnya shade dan tint. Chroma (kroma) menunjukkan kemurnian dan tingkat kecemerlangan warna. Warna yang murni (tidak dicampur dengan warna lain) tampak cemerlang dan jernih, sedangkan bila tercampur terlihat kurang cemerlang, redup. Warna-warna cemerlang tampak mendekat, sedangkan warna-warna redup tampak statis atau cenderung menjauh. Maka kroma menunjukkan dimensi ke depan dan ke belakang.

warna25.jpg

warna13.jpg

warna14.jpg

warna15.jpg

Silahkan efek dan trik ini Anda terapkan pada rancangan multimedia pembelajaran Anda. Yang dibutuhkan hanyalah penguasaan nuansa warna, mengetahui arah pencahayaan benda, dan ketelatenan dalam mengkomposisikan elemen-elemen grafis yang akan dibumbuhi di atasnya. Anda bisa koq, membuat kayak tampilannya Windows Vista. Atau mungkin lebih canggih lagi.

1. Warna-Warna Digitalisasi

Selain menguasai teori warna, ada baiknya seorang desainer menguasai juga karakteristik media, baik sebagai alat maupun sebagai output hasil produksinya kelak. Teori warna untuk dipoleskan langsung, seperti cat berbasis minyak maupun cat berbasis air akan sangat jauh beda karakteristik maupun perlakuannya dibandingkan dengan teori warna pada media digitalisasi. Tahukah Anda, bahwa komputer yang sedang Anda pakai sebetulnya hanya mempergunakan tiga warna yang diolahnya secara cerdas sehingga menghasilkan bias rona seperti yang terlihat sekarang.

warna20.jpg

Tiga warna di atas dikenali komputer dengan nama RGB, singkatan Red (merah), Green (hijau) dan Blue (biru). Lah, warna kuningnya mana? Bukankah dalam teori warna, kuning adalah salah satu warna primer yang tidak didapat dengan cara pencampuran pigmen warna yang lain? Kok yang ada hanya warna hijau,bukannya kuning? Padahal hijau merupakan warna ke dua (sekunder).

Untuk kasus yang satu ini, kita tidak lagi menelaah permasalahan warna semata, tapi kita juga harus mengkaji sumber warna yang dihasilkan. Bukankah warna  yang terbias pada layar monitor (komputer, televisi, dll) dihasilkan oleh pancaran sinar atau cahaya?  Mari kita lihat ilustrasi di bawah ini.

warna21.jpg

Dari gambaran di atas ternyata warna kuning didapat dengan berasimilasinya cahaya merah dengan cahaya hijau. Cahaya biru bertemu dengan cahaya merah menghasilkan magenta. Cahaya hijau dengan cahaya biru menghasilkan warna biru tua. Warna putih didapat dari pencampuran secara sempurna ketiga cahaya tersebut (RGB). Dalam berbagai kombinasi, warna-warna ini juga akan membuat warna yang lain. Warna-warna ini disebut juga warna ‘primer aditif’.

warna22.jpg

Masih ingat  Isaac Newton (1642 – 1727), ilmuwan Inggris yang sulit diajak bergaul karena hari-harinya dihabiskan untuk menemukan dalil dan percobaan? Penemuannya yang menakjubkan tentang sifat cahaya dan warna merupakan cikal bakal tabung-tabung monitor yang kita nikmati sekarang yang sudah ditaburi dengan aneka warna. Newton menemukan warna putih dari percampuran seluruh warna yang terdapat dalam spektrum warna (teori pembelahan cahaya). Namun pada perkembangan selanjutnya terjadi penyederhanaan, hanya dengan RGB saja sudah cukup untuk menampilkan warna putih. Dengan demikian, percaya atau tidak, kesan putih yang terdapat di layar monitor kita adalah percampuran seluruh kadar cahaya merah, hijau dan biru!


Bagaimana dengan printer?

Printer adalah alat untuk mencetak worksheet yang digarap di komputer. Printer memiliki tinta (cair dan serbuk) yang tercampur secara cerdas (diprogram) menurut kadarnya. Dengan demikian medianya jelas jauh berbeda. Pada printer kita mengenal empat macam warna, yang biasa disebut CMYK singkatan cyanine, magenta, yellow dan black (huruf ‘k’ diambil karena ‘b’ dipergunakan untuk warna ‘blue’).

warna23.jpg

Bandingkan dengan hasil pembiasan warna cahaya monitor. Kuning, cyanine dan magenta pada tinta printer merupakan warna primer. Magenta dicampur kuning dengan kadar 100% : 100% menghasilkan red (merah). Warna biru didapat dari percampuran cyanine dan magenta 100% : 100%.Perlu diingat, komputer memiliki standardisasi warna dalam hal pemilahan mode RGB dan CMYK. Dengan nama warna yang sama, komputer menampilkan hasil warna berbeda.

warna24.jpg

1. Penutup

Lokal Pak Jufri, yang bersebelahan dinding dengan lokal saya mengajar tiba-tiba gaduh. Tapi kedengarannya Pak Jufri dapat menenangkan anak-anak. Namun itu hanya beberapa saat, karena tiba-tiba gaduh kembali. Begitu seterusnya hingga bel istirahat berbunyi. Saya penasaran, ingin tahu apa yang terjadi. Kalau tadi saya menguntit Pak Jufri, sekarang sengaja saya jalan beriringan menuju ruang majelis guru.

“Anak-anak ribut karena presentasi yang saya buat tidak jelas di layar”, Pak Jufri curhat tanpa saya tanya. Tidak ada lagi lagu Mulan Jameela dari mulutnya. Pak Jufri gusar. “Padahal di layar monitor terlihat bagus dan cerah…” lanjutnya tidak habis fikir.

Projector presentasi merupakan media keluaran (output) yang fungsinya hampir sama dengan layar monitor. Dengan projector tampilan di layar proyeksi dapat dikosumsi secara masal. Beda yang sangat signifikan dalam penampilan warna jika dibandingkan dengan tabung monitor adalah sistem kerja proyeksi sinarnya. Monitor dibiaskan dari semprotan sinar yang datang dari belakang layar. Sedangkan hasil proyeksi warna di layar lebar adalah biasan sinar yang dipantulkan dari sinar projector. Dapat dipastikan terjadi koreksi warna yang sangat berbeda antara monitor komputer dengan projector presentasi. Hal inilah mungkin yang dialami Pak Jufri. Semoga tidak terjadi pada kita semua.

warna3.jpg

Ilustrasi di atas bukanlah Pak Jufri, tokoh kita. Hanya sekedar introspeksi bagi siapa saja yang mencoba memadupadankan jingga dengan kuning dalam penampilannya. Nggak bakalan matching! Berani coba, silahkan. Dijamin semua mata tertuju kepada Anda. Demikian juga antara merah dengan hijau, biru dengan oranye. Pasangan-pasangan warna tersebut dinamakan juga ‘warna komplementer’ atau warna yang saling berseberangan atau bertentangan dalam lingkaran warna.

Selamat mencoba dan enjoy selalu.

Rujukan: Cahaya; David Burnie – Dasar-dasar Desain; Atisah Sipahelut – Encarta Ensiclopedia – Nulsoft Inc. – Drawing by Marguerite Smith, Saskatoon – Corel Corp.

–ooOOoo–

About these ads

16 thoughts on “Warna Itu Ternyata Berwarna-warna

    • Vania, maaf terlambat balas pertanyaannya.
      Warna nila sering diidentikkan dengan warna ungu. Kesan yang ditimbulkan dari pancaran warna ini adalah keanggunan, kemegahan.

      Sekali lagi maaf,
      Better late than never.
      Ariasdi

  1. saya lagi tugas akhir ni.. mo buat sign system..
    trus lagi bingung ni jenis2 warna selaen warna dingin warna panas gitu ada yang lebih spesifik lagi ngga ya?

    trus saya pernah baca kalo untuk sign tu warna idealnya memiliki kekontrasan 70%
    gimana cara hitung kekontrasan itu? Makasih pak artikelnya sangat berguna :)

  2. ass.

    wah bapak artikelnya bagus bgt.
    bermanfaat bgt buat saya.
    karena saya ingin buat tugas akhir temanya desain packaging gtu..

    bisakan pak bantu saya..
    hee.

  3. ass
    saya tertarik dgn artikel bapak,,
    pak,,saYa lagi nYari efek warna yang ditimbulkan dari benda berwarna jika disinari lampu berwarna..bagaimana warna nya?
    ex : di perairan yang warnanya biru kehijau-hijauan kita mengoperasikan alat tangkap dengan umpan berwarna merah muda, jika disinari lampu berwarna biru bagaimana hasilnya pak??
    tima kasih pak..
    mohon saya dibantu
    makasi pak

    • Dear, Liya…

      Pada dasarnya seluruh benda yang kasat mata tidak memiliki warna sama sekali!!! Aneh bukan??? Mungkin ini jawaban yang berlawanan dengan logika kita selama ini, tapi itulah kenyataannya. Paradigma bahwa benda memiliki warna merupakan kesalahan yang turun temurun dalam logika kita.
      Jika demikian, dari mana datangnya jutaan dan bahkan tidak dapat dihitung aneka warna yang terdapat dialam ini? Jawabannya dari SINAR MATAHARI yang memiliki sumber aneka warna tersebut. Yang kita lihat pada sehelai daun yang berwana hijau sebetulnya adalah pantulan warna hijau matahari yang apabila menimpa pigmen daun tersebut menghasilkan warna hijau atau berubah kecoklatan apabila telah mengering. Demikian seterusnya pada laut, tanah, rumput dan sebagainya.
      Masih ragu??? Mari kita lakukan riset kecil-kecilan sebagai berikut. Perhatikan warna kulit kita ketika kena sinar matahari. Anggap saja warnanya sawo matang. Nah, pada malam hari, coba berdiri dibawah lampu yang sinarnya berwarna kuning. Warna kulit akan berubah, menyesuaikan dengan warna sinar yang datang.
      Hal tersebut berlaku juga pada alat tangkap dengan umpan berwarna merah muda (sinar matahari) diberi cahaya dengan sinar berwarna biru.

      Semoga bermanfaat.
      Ariasdi

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s