Selamat Jalan Mata Pelajaran TIK


Tulisan ini menjadi Index Headline di kompasiana.com pada tanggal 3 April 2013.

Gambar

——————————————-

Hanya dalam kurun waktu lima tahun sejak dimasukkannya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) sebagai mata pelajaran pokok dalam Kurikulum Pendidikan, dunia TIK di Indonesia berkembang begitu dahsyatnya. Kurikulum 2004 yang dilanjutkan dengan KTSP 2006 memberikan ruang dan peluang untuk memfasilitasi masyarakat akademik dari tingkat dasar, menengah hingga perguruan tinggi untuk mengenal lebih dekat dengan teknologi komputer beserta multimedianya. Rangsangan tersebut, walau pada awalnya seperti hal yang mustahil diwujudkan oleh lembaga pendidikan karena komputer merupakan sarana dan prasarana yang dianggap mewah dan mahal, berdampak di tahun-tahun belakangan ini. Baca lebih lanjut

‘Classic Teachers’ versus ‘Digital Students’ (Sebuah Refleksi Menyambut Kelahiran Kurikulum 2013)


Digital Students’ are young adults who have grown up with digital technologies integrated as an everyday feature of their lives. Digital students use technology differently from previous generations of students, fluidly and often simultaneously using instant messengers, mobile phones, the Web, MP3 players, online games and more ( Andone, at al; 2009).

Anekdot: “Dua perangkat gadget dengan jenis dan harga yang sama dibagikan kepada satu orang guru dan satu orang peserta didik yang duduk di tingkat sekolah dasar (SD) pada waktu bersamaan. Beberapa saat kemudian, peserta didik telah asik berselancar, sementara sang guru masih sibuk mencari cara bagaimana menghidupkannya” (Ariasdi; 2013). Baca lebih lanjut

CEMAS


Pada saat tulisan ini dibuat, Januari hampir menghabiskan paruh pertamanya. Artinya, 2012 telah berlalu. Namun serangkaian kegiatan dan agenda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya di bagian  Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan (BPSDMP) yang diselenggarakan oleh LPMP di tingkat Provinsi, begitu padat pada tahun tersebut.

Sosialisasi pengisian instrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS) memasuki tahun ke tiga penyelenggaraan. Perubahan cukup signifikan dari format, teknis pengambilan responden, pengisian instrumen hingga melahirkan Profil Mutu Sekolah, RKS dan RKAS, sehingga cukup memakan energi untuk memberi pengertian ke satuan pendidikan tentang latar belakang perubahan tersebut.

Kegiatan lain yang yang cukup menghebohkan adalah penyelenggaraan Uji Kompetensi Guru (UKG). Berbagai polemik timbul di berbagai media cetak dan elektronik tentang UKG ini yang diselenggarakan secara on-line. Pesimis tentang hal-hal mendasar, seperti; bisakah kegiatan tersebut dilaksanakan? Mampukah daerah mempersiapkan sarana dan prasarananya? Pertanyaan berlanjut, sanggupkah seluruh guru-guru kita mempergunakan komputer untuk menjawab materi uji? Guru yang mengajar di tingkat menengah masih mendingan, namun bagaimana dengan guru sekolah dasar yang berada di pelosok daerah yang belum bersentuhan sama sekali dengan media on-line dan bahkan belum bisa komputer? Baca lebih lanjut

Habibie, Teknologi, Seni dan Cinta


habibie

PUISI HABIBIE UNTUK AINUN

Ainun…

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu,
bukan itu.
Karena,
aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya
dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,
aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,
sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,
pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. 
mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia,
kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, 
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, 
kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. 
selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, 
selamat jalan,calon bidadari surgaku ….

habibie 2

Satu per satu kata dan kalimat yang dirangkai menjadi bait puisi di atas kubaca perlahan. Baru beberapa bait kulewati, tenggorokanku seakan tersedak. Air mataku tiba-tiba berlinang. Kuhentikan sejenak, agar tidak terlalu hanyut, tanpa berpaling dari tulisan. Khawatir dilihat peserta diklat yang saat itu kupimpin.

Aku terpana setelah puisi singkat tersebut tuntas kubaca. Mataku nanar. Kuhela nafas panjang dengan harapan dapat menenangkan diri. Laptop di hadapanku masih terkembang. Enggan kututup, walau panitia sudah mengingatkanku untuk segera ke ruang makan, sekaligus istirahat dan sholat Dzuhur.

Sesaat kemudian, tangan kananku kembali bergerak menggeser-geser mouse. Kubuka e-mail yang sudah dua hari tidak kubaca. Beberapa mailing-list sedang membahas topik ‘Puisi Habibie untuk Ainun’. Aha,… aku tidak sendiri. Ada yang sebatin denganku. Juga meneteskan air mata, seperti Anda jika menghayatinya. Baca lebih lanjut

Uji Publik Kurikulum 2013


Mulai tanggal 29 November 2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengumumkan Draft Resmi Kurikulum 2013. Draft ini juga bisa diuji publik secara online di http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id/.

Pengembangan Kurikulum 2013 dilakukan dalam empat tahap. Tahap pertama, penyusunan kurikulum di lingkungan internal Kemdikbud dengan melibatkan sejumlah pakar dari berbagai disiplin ilmu dan praktisi pendidikan. Tahap kedua, pemaparan desain Kurikulum 2013 di depan Wakil Presiden selaku Ketua Komite Pendidikan yang telah dilaksanakan pada tanggal 13 Nopember 2012 serta di depan Komisi X DPR RI pada tanggal 22 Nopember 2012. Tahap ketiga, pelaksanaan uji publik guna mendapatkan tanggapan dari berbagai elemen masyarakat. Baca lebih lanjut

ICT dalam Proses Pembelajaran Membodohi Peserta Didik


Nyaris satu tahun saya tidak memperbarui laman ini. Rutinitas kantor dan pelaksanaan kegiatan di lapangan membuat nafsu untuk membuat tulisan jadi berkurang. Walaupun saya singgahi, paling untuk melihat statistik pengunjung, apakah masih ada yang mampir atau bahkan blog ini telah dilupakan sama sekali. Namun Alhamdulillah, komentar dari beberapa tulisan tetap berdatangan, sehingga niat untuk menghapus blog ini dari dunia maya terbuyarkan.

Mengapa sekarang tiba-tiba ingin menulis lagi? Ada yang spesial?

Sebenarnya tidak, kalau saja salah seorang Dekan dari sebuah Fakultas di Universitas ternama di kota saya tidak mengeluarkan beberapa kalimat yang mengagetkan. Dalam sebuah pertemuan terbatas yang juga dihadiri Pak Dekan tersebut menyimpulkan bahwa sebanarnya Pembelajaran Berbasis ICT membodohi siswa. Guru sebaiknya memberikan pengalaman nyata dalam proses pembelajaran. Orientasinya salah satu negara maju di Asia, yang sama sekali menghindari memberikan pembelajaran dengan pendekatan ICT. Setidaknya itu kesimpulan yang diterima Pak Dekan dari beberapa tokoh pendidikan dari luar negeri dalam sebuah acara. Pembelajaran dengan menggunakan ICT, lanjutnya, hanya memberikan dunia semu kepada siswa. Tidak realistis.

Pernyataan Pak Dekan di atas hampir hilang dari memori saya karena sudah berlalu sekitar empat bulan. Namun seminggu yang lalu, kalimat Pak Dekan tersebut menjadi meradang kembali, karena pernyataan yang sama juga dilontarkan oleh salah satu pejabat Kabupaten di Provinsi Sumbar dalam pembukaan acara Pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis ICT yang dihadiri oleh perwakilan guru SLTP di Kabupaten tersebut. Saya sendiri duduk di samping Beliau karena saya dihadiri sebagai narasumber. Saya memiliki kesempatan untuk menjelaskan posisi ICT dalam proses pembelajaran, namun Pak Pejabat keburu pamit setelah acara pembukaan, mengetuk mik tiga kali (karena palu tidak disediakan) dan menyantap hidangan kecil serta mereguk minuman kemasan gelas plastik, tanpa sedikitpun mengikuti acara yang baru saja dibukanya. Ahh… Baca lebih lanjut